Makna Guyonan Gus Dur
Salah satu yang paling dikenang dari Gus Dur adalah selera humornya yang
tinggi.
Tidak seperti lelucon di panggung hiburan atau media elektronik, yang umumnya
lebih mengeksplorasi gerak tubuh dan permainan mimik wajah, lelucon Gus Dur
bertumpu pada gagasan dan kata-kata. Singkatnya, lelucon Gus Dur adalah lelucon
yang cerdas, sesuai kapasitas intelektualnya.
Tidak seperti lelucon di panggung hiburan atau media elektronik, yang umumnya
lebih mengeksplorasi gerak tubuh dan permainan mimik wajah, lelucon Gus Dur
bertumpu pada gagasan dan kata-kata. Singkatnya, lelucon Gus Dur adalah lelucon
yang cerdas, sesuai kapasitas intelektualnya.
Begitu berpengaruhnya humor-humor ala Gus Dur, sehingga publik masih
mengenangnya, salah satunya adalah ketika Gus Dur menyebut anggota DPR RI
sebagai murid taman kanak-kanak. Kini sudah muncul komunitas yang berusaha
melestarikan humor-humor Gus Dur, yang bernama Gusdurian. Adakah makna
di balik humor-humor Gus Dur? Itulah yang menjadi tema perbincangan program
Agama dan Masyarakat, yang diselenggarakan KBR68H. Perbincangan kali ini
mengundang dua nara sumber, masing-masing adalah Abdul Moqsith Ghazali
(peneliti senior The Wahid Institute, dosen UIN Syarif Hidayatullah), dan Imam
Malik (komedian, penggiat Komunitas Gusdurian).
mengenangnya, salah satunya adalah ketika Gus Dur menyebut anggota DPR RI
sebagai murid taman kanak-kanak. Kini sudah muncul komunitas yang berusaha
melestarikan humor-humor Gus Dur, yang bernama Gusdurian. Adakah makna
di balik humor-humor Gus Dur? Itulah yang menjadi tema perbincangan program
Agama dan Masyarakat, yang diselenggarakan KBR68H. Perbincangan kali ini
mengundang dua nara sumber, masing-masing adalah Abdul Moqsith Ghazali
(peneliti senior The Wahid Institute, dosen UIN Syarif Hidayatullah), dan Imam
Malik (komedian, penggiat Komunitas Gusdurian).
Menurut Imam Malik, meski Gus Dur menympaikannya dengan cara humor,
selalu
ada makna di balik itu. Ketika Gus Dur menyebut anggota DPR sebagai murid TK,
misalnya, itu menunjukkan Gus Dur tahu benar, bahwa rakyat sudah mulai muak
terhadap parlemen, dan ternyata itu berlangsung sampai sekarang, jauh setelah Gus
Dur tidak lagi menjadi Presiden. Humor “murid TK” itu menunjukkan karakter
Gus Dur yang tidak mau kompromi, masih menurut Imam, bila Gus Dur bersedia
kompromi, tentu Gus Dur akan terus bertahan sebagai Presiden.
ada makna di balik itu. Ketika Gus Dur menyebut anggota DPR sebagai murid TK,
misalnya, itu menunjukkan Gus Dur tahu benar, bahwa rakyat sudah mulai muak
terhadap parlemen, dan ternyata itu berlangsung sampai sekarang, jauh setelah Gus
Dur tidak lagi menjadi Presiden. Humor “murid TK” itu menunjukkan karakter
Gus Dur yang tidak mau kompromi, masih menurut Imam, bila Gus Dur bersedia
kompromi, tentu Gus Dur akan terus bertahan sebagai Presiden.
Moqsith menyampaikan, bahwa Gus Dur tidak sendirian dalam berdakwah
menggunakan humor, kalau kita masuk ke dunia pesantren, tradisi menyampaikan
dakwah dengan lelucon lazim dilakukan para mubaligh. Moqsith menyebut salah
satunya adalah KH Mustafa Bisri (Gus Mus), juga kyai-kyai di Cirebon dan Jatim,
yang selalu menyisipkan humor dalam dakwahnya. Memperhatikan banyolan
Gus Dur adalah memperhatikan pola komunikasi yang dibangun NU. Karena itu
persoalan-persoalan berat di NU di masa kepemimpinan Gus Dur, bisa diatasi
dengan cara humor. “Para pemimpin NU, tidak tegang ketika harus presentasi atau
berdakwah. Ini karena, selalu ada humor segar disisipkan dalam dakwahnya, beda
dengan organisasi Muhammadiyah, yang intelektualnya selalu terkesan serius,”
ungkap Moqsith.
menggunakan humor, kalau kita masuk ke dunia pesantren, tradisi menyampaikan
dakwah dengan lelucon lazim dilakukan para mubaligh. Moqsith menyebut salah
satunya adalah KH Mustafa Bisri (Gus Mus), juga kyai-kyai di Cirebon dan Jatim,
yang selalu menyisipkan humor dalam dakwahnya. Memperhatikan banyolan
Gus Dur adalah memperhatikan pola komunikasi yang dibangun NU. Karena itu
persoalan-persoalan berat di NU di masa kepemimpinan Gus Dur, bisa diatasi
dengan cara humor. “Para pemimpin NU, tidak tegang ketika harus presentasi atau
berdakwah. Ini karena, selalu ada humor segar disisipkan dalam dakwahnya, beda
dengan organisasi Muhammadiyah, yang intelektualnya selalu terkesan serius,”
ungkap Moqsith.
Imam memberi catatan khusus humor Gus Dur tentang Papua dan Madura.
Ketika
Gus Dur memberi ijin warga Papua mengibarkan bendera Bintang Kejora, Gus Dur
Gus Dur memberi ijin warga Papua mengibarkan bendera Bintang Kejora, Gus Dur
beralasan, kalau Persebaya, Persija boleh mengibarkan bendera
masing-masing,
kenapa Bintang Kejora dilarang.
Ternyata begitu Bintang Kejora dikibarkan, juga
tidak terjadi apa-apa. Kemudian, humor Gus Dur bertema orang Madura, sebagai
cara Gus Dur membela masyarakat yang selama ini sering didiskriminasi, karena
dianggap sebagai masyarakat terbelakang, yang dipresentasikan oleh orang
Madura. Pesan yang ingin disampaikan Gus Dur adalah, dalam menyampaikan
sebuah masalah gunakanlah bahasa yang lugas, tidak perlu memakai istilah yang
tinggi-tinggi, agar kita dikagumi orang
tidak terjadi apa-apa. Kemudian, humor Gus Dur bertema orang Madura, sebagai
cara Gus Dur membela masyarakat yang selama ini sering didiskriminasi, karena
dianggap sebagai masyarakat terbelakang, yang dipresentasikan oleh orang
Madura. Pesan yang ingin disampaikan Gus Dur adalah, dalam menyampaikan
sebuah masalah gunakanlah bahasa yang lugas, tidak perlu memakai istilah yang
tinggi-tinggi, agar kita dikagumi orang
Abdul Moqsith mengemukakan, dibalik kekonyolan Gus Dur terdapat
keseriusan
mendalam. Menurut Moqsith, tiap kali Gus Dur membuat tulisan opini, tak pernah
ada lelucon yang diselipkan. Artinya, Gus Dur punya humor di saat-saat tertentu,
seperti berhadapan dengan banyak orang. “Seperti saat menjadi Presiden, Gus Dur
punya sikap untuk mengeluarkan militer dari ruang politik, mengakui Konghucu
sebagai agama, dan menarik militer saat Aceh bergejolak. Ia berambisi menjadi
presiden, karena punya gagasan-gagasan yang baik,” ungkap Moqsith.
mendalam. Menurut Moqsith, tiap kali Gus Dur membuat tulisan opini, tak pernah
ada lelucon yang diselipkan. Artinya, Gus Dur punya humor di saat-saat tertentu,
seperti berhadapan dengan banyak orang. “Seperti saat menjadi Presiden, Gus Dur
punya sikap untuk mengeluarkan militer dari ruang politik, mengakui Konghucu
sebagai agama, dan menarik militer saat Aceh bergejolak. Ia berambisi menjadi
presiden, karena punya gagasan-gagasan yang baik,” ungkap Moqsith.


